October 03, 2022
loading

Fanatisme, Kekerasan, dan Olahraga: Tinjauan Psikologis Tragedi Kanjuruhan

Posted by    admin

Sungguh sangat menyedihkan menyaksikan begitu banyak nyawa yang harus melayang dalam sebuah pertandingan olahraga sepak bola yang baru-baru ini terjadi di Indonesia. Setelah waktu yang kosong begitu panjang selama pandemi, memang akhirnya pertandingan olahraga seperti sepak bola dapat kembali ditonton secara langsung. Kekosongan selama pandemi digantikan dengan riuh pikuk keramaian yang selama ini hilang. Sayangnya transisi ini terjadi berlebihan dan menimbukan konsekuensi negatif tanpa tindakan preventif untuk meredam sebuah fanatisme yang berujung pada kekerasan.

Menjadi fans/penggemar dari sebuah klub olahraga adalah sebuah aktivitas psikologis. Hal itu terlihat dari beberapa hal berikut ini :

  • Ada relasi yang bermakna antara seorang fans dengan klub kesayangannya dan fans di dalam klub tersebut
  • Ada harga diri yang meningkat saat klub tersebut menang dan sebaliknya menurun saat klubnya kalah
  • Ada kebersamaan emosional kolektif antar sesama pendukung yang dapat menggerakkan pikiran, sikap dan perilaku saat ada aktivitas yang dilakukan oleh seseorang atau beberapa anggota klub lain
  • Hilangnya rasa kesepian dan tumbuhnya rasa memiliki
  • Terbentuknya suatu identitas baru sebagai pendukung klub tertentu dan menyerap identitas tersebut secara general

Team Identification adalah saat seorang fans benar-benar mendalam mengidentifikasikan dirinya sebagai bagian dari klub yang didukungnya. Hal ini sama ketika seseorang mengidentifikasikan bangsanya, sukunya, agamanya, dll. Identifikasi tim ini menggambarkan seberapa jauh seseorang merelevansikan dirinya dengan klub, pemain-pemainnya, pertunjukan tim dan bahkan sikap para pemain dan fans lainnya. Proses psikologis mendalam sebuah identifikasi ini yang berujung pada fanatisme yang berlebihan, ada harga diri yang disematkan di sana sehingga apapun yang terjadi pada timnya akan memengaruhi harga dirinya, pikiran, emosi dan perilakunya. Apabila ada hasil yg buruk diraih oleh timnya atau ada situasi tim yang tidak baik maka itu dirasakan sebagai suatu ancaman terhadap harga dirinya.

Ancaman terhadap harga diri ini yang akan memicu suatu mekanisme alami primitif yang disebut fight or flight. Mekanisme ini ditandai dengan berbagai proses biologis dan psikologis dalam tubuh, antara lain:

  • Keluar hormon-hormon yang memicu sel saraf simpatis untuk bekerja yang membuat seseorang dalam keadaan siap siaga
  • Denyut jantung meningkat jadi lebih cepat memompa darah ke seluruh bagian tubuh
  • Tekanan darah meningkat sebagai akibat dari denyut jantung yang meningkat sehingga mudah untuk menjadi emosional
  • Laju pernafasan meningkat, cepat dan pendek sehingga oksigen yg masuk ke dalam otak menjadi berkurang dan dapat menyebabkan otak kekurangan oksigen sehingga terjadi hipoksia
  • Otot-otot berkontraksi, tegang dan gelisah
  • Persepsi nyeri menjadi berkurang, rasa nyeri sedikit tidak terlalu dirasakan
  • Kemampuan otak untuk mempertimbangkan sesuatu menjadi menurun, sulit menghitung untung rugi suatu tindakan

Kondisi fight or flight ini jika tidak diregulasi dengan baik akan menimbulkan konsekuensi negatif seperti perilaku kekerasan yang termanifestasi dalam :

  • Kekerasan verbal
  • Kekerasan fisik terhadap benda
  • Kekerasan fisik terhadap diri sendiri
  • Kekerasan fisik terhadap orang lain

Hal tersebut bisa memicu tindakan reaktif dari pihak lain yang berujung pada keadaan yang tidak dapat dikendalikan seperti kejadian memilukan yang kita saksikan beberapa waktu lalu.

 

Tips Meredam Fanatisme Berlebihan

 

  1. Menyadari bahwa dalam kompetisi ada menang dan kalah dengan peluang 50/50, jadi perlu siap untuk menang dan juga kalah. It is just a game
  2. Jadilah fans yang cerdas dan bijak, kekalahan 1 pertandingan tidak menggambarkan keseluruhan penampilan tim
  3. Apapun yang terjadi pada tim yang didukung tidak harus memengaruhi harga diri dan kehidupan kita
  4. Latihan meregulasi emosi dengan melakukan napas dalam, relaksasi, teknik grounding, humor, dll
  5. Mencoba mengekspresikan emosi dengan cara yang lebih positif, meneriakkan chant, yel yel, gerakan-gerakan atraktif yang menghibur
  6. Hindari perilaku perilaku yang membahayakan dan memprovokasi seperti menjelekkan tim lawan, melempar, turun ke lapangan, merusak, mencederai karena itu akan membuat suasana rusuh
  7. Melakukan kegiatan kegiatan positif klub di luar jadwal pertandingan sehingga atribut klub yang didukung tidak hanya melulu mengenai hasil pertandingan, misalnya: jumpa fans, charity/aksi amal, bakti sosial, dll.

 

Persiapan, pengamanan dan pengawasan pertandingan yang humanis perlu terus menerus dikedepankan agar menonton sebuah pertandingan bisa menjadi bagian sehat bagi mental kita.

Turut berduka untuk kejadian di Stadion Kanjuruhan, tetap semangat membangun kompetisi hebat di negeri tercinta.

 

Salam SEJI-GO

(Sehat Jiwa Bersama Lahargo)

 

dr. Lahargo Kembaren, Sp.KJ

Psikiater, Kepala Instalasi Rehabilitasi Psikososial Pusat Kesehatan Jiwa Nasional RS.Jiwa dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor

 

 

Referensi :

Fisher, R.J. & Wakefield, K. (1998). Factors leading to group identification: A field study of winners and losers. Psychology & Marketing, 15, 23-40.

Hirt, E.R., Zillmann, D., Erickson, G.A., & Kennedy, C. (1992). Costs and benefits of allegiance: Changes in fans’ selfascribed competencies after team victory versus defeat. Journal of Personality and Social Psychology, 63, 724-738.

Lindstrom, W.A., & Lease, A.M. (2005). The role of athlete as contributor to peer status in school-age and adolescent females in the United States: From pre-title IX to 2000 and beyond. Social Psychology of Education, 8, 223-244.

Wann, D.L. (2006). Examining the potential causal relationship between sport team identification and psychological wellbeing. Journal of Sport Behavior, 29, 79-95.

 Wann, D.L., & Grieve, F.G. (2005). Biased Evaluations of In-Group and Out-Group Spectator Behavior at Sporting Events: The Importance of Team Identification and Threats to Social Identity. Journal of Social Psychology, 145, 531-545.

  • Share to :