July 27, 2018
loading

SOLER DAN SURETY EFEKTIF DIGUNAKAN DALAM MEMBANGUN HUBUNGAN TERAPEUTIK PERAWAT ? KLIEN KETERGANTUNGAN NAPZA

Posted by    admin

Badan Narkotika Nasional (BNN) mengatakan, saat ini masyarakat yang masuk dalam fase ketergantungan narkoba hampir mencapai 6 juta orang. Angka ini belum termasuk pengguna ganda baik pengedar maupun masyarakat yang masih coba-coba. Saat ini para pengedar narkoba di Indonesia semakin memperluas pasarnya dengan mengincar anak-anak.

Tembakau gorila sedang ramai diperbincangkan. Banyak yang mengusulkan agar tembakau gorila dimasukkan  sebagai narkoba. Tembakau ini sempat marak pada sekitar 2015, banyak diperdagangkan bebas melalui media sosial seperti Twitter dan Facebook,sempat legal beredar karena bentuknya lintingan tembakau dan bebas diperjualbelikan. Setelah muncul video pilot citylink diduga minum alcohol dan menggunakan tembakau gorilla, berdampak ramainya tembakau ini  diserbu para pecandu zat-zat sedatif. Tembakau Gorilla memiliki efek memabukkan. Lain hal dengan kondisi memprihatinkan  terlapor dan masih segar dalam ingatan kita,pada peristiwa Tahun 2017 yang menimpa   puluhan anak-anak dan remaja dilarikan ke beberapa rumah sakit di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara dikarenakan adanya penyalahgunaan NAPZA (Narkoba, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya), yaitu PCC ( Paracetamol Cafein Carisoprodol). Temuan kasus ini bermula dari video yang diviralkan via facebook oleh warga Kendari pada 13 September 2017 yang menjadi perhatiannya.Terlapor 50 Pelajar dan Pegawai yang mengkonsumsi PCC,Tramadol,Somadril mengalami gangguan mental.Hal ini menjadi perhaitan Kementrian Kesehatan akan adanya bahaya kesehatan mental bagi generasi muda. Umur rata-rata pasien yang dirawat di  berusia antara 15-22 tahun mengalami gangguan kepribadian dan gangguan disorientasi, sebagian datang dalam kondisi delirium setelah menggunakan obat berbentuk tablet berwarna putih bertulisan PCC dengan kandungan obat belum diketahui.Ada yang salahkah dari peristiwa tersebut,apa yang melatarbelakangi anak-anak tersebut dapat menggunaan obat-obat berbahaya yang dilarang oleh pemerintah.

KPAI menemukan adanya peningkatan keterlibatan anak dalam peredaran gelap narkoba. Anak semakin sering ditemukan menjadi kurir hingga korban penyalahgunaan narkoba haram itu. Peningkatan jumlah anak yang terlibat dalam bisnis narkoba diduga berbarengan dengan semakin besarnya jumlah narkoba tersebut masuk dari luar negeri. Dugaan itu diperkuat dengan terungkapnya kasus penyelundupan narkoba ke Indonesia dalam jumlah besar beberapa waktu yang lalu. Total 87 juta anak yang berusia maksimal 18 tahun tercatat 5,9 juta yang terpapar sebagai pecandu narkoba, 27 persen di antaranya adalah anak-anak yakni 1,6 juta anak sebagai pengedar.( KPAI).

Masa remaja ( usia 11-18 tahun ) adaah masa dimana organ-organ reproduksi sudah mulai tumbuh,dan mulai mencari jati diri. Penyebab remaja  yang mengalami ketergantungan dapat disebabkan oleh faktor-faktor individu sendiri di mana ada sejarah masa kecil kecemasan dan kebingungan yang tidak stabil tentang identitasnya, merasa mampu memperlakukan dirinya dengan zat dan merasakan manfaat dari efek substansi, keberadaan cari tingkah laku dari zat-zat sensing karena merasakan kenyamanan atau efek positif ketika pertama kali menggunakannya sebagai penguat positif mencari perilaku zat dan adanya gangguan kepribadian. sedangkan faktor-faktor dari luar adalah Faktor Lingkungan baik dalam lingkungan keluarga dan sekitarnya

Keluarga dapat menjadi faktor predisposisi terjadinya ketergantungan pada individu, ditandai dengan ketidakharmonisan, komunikasi yang buruk antara anggota keluarga, kurangnya keintiman dalam hubungan antara anggota keluarga, otoritas peran orang tua yang tidak dapat dinegosiasikan baik hak-kewajiban dalam keluarga, keluarga acuh tak acuh, kesibukan meningkat.Ketika anggota keluarga kecanduan perilaku keluarga yang adiktif beberapa orang tahu tapi mengabaikan, tidak berdaya untuk bertindak, dan yang lain mengalami kepanikan dan kebingungan. Situasi lain memiliki keluarga yang tidak tahu selama bertahun-tahun, tetapi setelah ada kejadian urusan dengan polisi atau orang, maka keluarga itu baru  menyadarinya.

Upaya Pencegahan dan penanggulan sudah dilakukan oleh Pemerintah,Sektor kesehatan memegang peranan penting dalam upaya pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan NAPZA, melalui upaya Promotif, Preventif, Terapi dan Rehabilitasi. Regulasi yang mengatur antara lain Undang-Undang No. 35/2009 tentang Narkotika, Undang-Undang No. 44/2009 tentang Rumah Sakit, Undang-Undang No. 18/2014 tentang Kesehatan Jiwa, dan Permenkes No. 41 tahun 2017 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika

Profesi Perawat memiliki peran yang sangat strategis baik di tingkat pelayanan dasar sampai lanjutan di rumah sakit untuk berkontribusi dalam pencegahan dan pengendalian Bahaya Napza di bagian promise,preventif dan rehabilitatif. Berbagai Kegiatan keperawatan dapat dikembangkan mulai dari sosialisasi bahaya dan pencegahan Napza sampai pada melakukan asuhan keperawatan mulai dari fase detoksifikasi-stabilisasi dan pemulihan.

Pekerjaan mendampingi dan menolong pecandu Napza dapat dilakukan oleh perawat.Untuk dapat menolong memberikan asuhan keperawatan pada pecandu,seorang perawat perlu membekali diri dengan ilmu dan keterampilan. Satu Strategi yang dapat perawat gunakan untuk membangun hubungan saling percaya adalah kemampuan berkomunikasi secara efektif, baik verbal maupun non verbal.  Metode  SOLER ( Sit squarely-Open Posture-Leans Toward To OthersEye Contack-Relax  ) merupakan metodek komunikasi non verbal yang telah diperkenalkan oleh Prof Gerard Egan sejak Tahun 1975 di Loyola Universitas di Chicago,metode ini  sangat efektif untuk diimplementasikan untuk melatih kemampuan mahasiswa perawat dalam meningkatkan kemampuannya berkomunikasi secara efektif kepada pasien.

Komponen SOLER yang dimaksud adalah S(“Squarely”) berarti ditegaskan bahwa penolong memberikan kemampuannya untuk menjadi  bahwa pendengar yang baik, "duduk berhadapan secara jujur" kepada klien. Menurut Egan  bahwa posisi berhadapan dapat disukai atau tidak oleh lawan bicara kita, bahkan dapat menjadi suatu kondisi yang mengancam harga diri orang lawan atau lawan bicara.Menciptakan duduk berhadapan dengan menggunakan kursi dapat dinilai lebih memberikan kenyamanan. O ("Open Posture") berarti menciptakan postur tubuh membuka diri,siap untuk berkomunikasi dan tidak menyilangkan kedua kaki atau tangan. L (“Lean towards the other”) berarti bersandar kepada lawan bicara untuk membangun minat berkomunikasi tenatng sesuatu hal yang dirasakan. E ("Eye Contact “). Berarti membangun kontak mata dengan menatap dengan penuh ketenagan,kasih saying,hal ini mungkin saja bertentangan dengan budaya atau masyarakat umum, namun kehadiran kontak mata yang teduh dapat memberikan arti yangdalam bagi lawan komunikasi. R ("Relax ).berarti santai mampu menghadirkan kondisi ketenangan,tidak gelisah dan mencegah kegugupan.

Di Inggris metode ini sudah banyak didiskusikan karena SOLER mampu menghadirkan perilaku berbela rasa,kasih sayang dan empati. Selanjutnya metode ini terus dipelajari agar dapat diukur kemanfaatannya bagi Perawat maupun mahasiswa keperawatan.( Danielsen & Cawley,2007;Davidson&Willams,2009; Williams & Stickley,2010). Namun menurut Theodore Sticlkey dalam Jurnal penelitiannya yang berjudul From SOLER to SURETY for effective non-verbal communication,dinyatakan bahwa selama 15 tahun menggunakan metode SOLER sebagai satu sarana untuk melatih empati sklill pada mahasiswa keperawatan,dan  menerapkan dalam kegiatan konseling pada pasien dirasakan perlu dilakukan modifikasi.

Selama 7 tahun Stickley mengembangkan SOLER menjadi SURETY. Pengembangan metode tersebut merupakan  pengalaman yang dialaminya bersama klien, SURETY yang dimaksud adalah:

 S : Sit at an angle to the client

 U: Uncross legs and arms

 R: Relax

 E : Eye contact

 T : Touch

 Y   Your intuition

 S : Duduk dengan bersentuhan kedua lutut dengan klien.

 Duduk berhadapan langsung dengan klien dapat dirasakan adanya kecanggungan dan terkesan konfrontasi.Jika duduk bersebelahan seperti di ruang tunggu tidak menciptakan posisi interpersonal,namun jika duduk sedikit miring akan menciptakan kenyamanan bagi klien dan tergantung juga pada adat atau budaya yang diyakini seseorang. Dalam hal ini perawat harus menggunakan intuisinya dan peka akan tanda atau petunjuk yang ditampilkan klien saat duduk bersama klien

U :Melepaskan atau merilekkan kaki dan tangan tidak menyilangkan.

Sikap menyilangkan kaki mencerminkan sikap non verbal yang difensif,tidak tertarik atau sikap menyombongkan diri.Sikap meluruskan tangan dan kaki mengkomunikasikan  bahwa menerima hubungan,terbuka terhadap orang lain.Sikap terbuka mungkin bagi beberapa orang menimbulkan ketidaknyamanan saat sedang menjalani konseling oleh karena itu penting diperhatikan perlunya modifikasi atau rancangan prasarana berupa kursi yang nyaman dan dapat mempertahankan postur yang baik dan terbuka  saat melakukan sesi konseling.i

R : Relax atau Bersantai

Kemampuan membangun mood yang relax,santai tanpa adanya ketegangan, agar  komunikasi non-verbal,  yang dibangun dan penting adalah  belajaar menjadi pendengar yang baik. Praktek membangun mood  yang relax mungkin saja  terasa canggung pada awalnya namun hal ini sangatlah berharga. Hasil dari sikap ini adalah mengajak klien untuk  mengungkapkan  hal-hal  yang  mengganggu dan penting untuk disampaikan tanpa ada rasa beban, kawatir  dan takut.Menurut Egan membangun mood dengan praktek bersikap condong kepada klien,namun sikap ini ditiadakan dengan mendemontrasikan sebagai pendengar yang aktif dengan posisi alami yang dapat dipertahankan

E : Kontak mata

Membangun kontak mata yang tepat adalah cara yang ampuh untuk berkomunikasi.memberikan rasa hormat dengan arti kita  memperhatikan. Mata merupakan jendela yang mampu menjelajah ke dalam kondisi emosi dan mental  seseorang. Membangun kontak mata yang tepat dan penuh arti dapat memberikan suatu kepekaan atau rasa sensitive kepada klien dan dapat juga memberikan rasa tertekan pada klien.Kondisi kontak mata sering beralih dapat menimbulkan ketidakpercayaan dalam membangun hubungan dengan klien.Seorang Perawat harus mampu melakukan kontak mata yang bijak,dalam artinya kontak mata bersifat  tidak universal harus diketahui dari klien tentang  pemahaman akan budaya yang dianut dan perbedaan gender jika melakukan kontak mata bertentangan atau tidak.

Neuro-linguistic Programming (NLP) meneliti proses mental terkait dengan posisi mata dalam percakapan, ternyata kontak mata tidak terlalu berpengaruh besar terhadap dalam komunikasi non-verbal. Dalam Model SURETI, intuisi mengatur seluruh proses non-verbal komunikasi.

T: Menyentuh

Prakatek Bersentuhan dalam hal ini tidak bersifat universal,  digunakan dengan tepat dan memperhatikan  aspek budaya dan perbendaan gender. Kepekaan sangat penting dilatih saat metode bersentuhan digunakan untuk membangun komunikasi. Sentuhan atau pelukan dapat dirasakan tidak pantas jika penerapannya tidak tepat,terutama pada anak-anak dan  remaja bermasalah atau dengan orang tua. Penggunaan sentuhan yang baik dan tepat harus memberikan rasa kasih saying,empati dan pengertian. Praktek bersentuhan dapat dilakukan dengan cara bersentuhan menggunakan tangan menyentuh bahu yang menandakan adanya rasa perhatian,kehangatan dan pengertian.

Penelitian yang dilakukan oleh Gleeson and Higgins (2009) menyatakan bahwa sentuhan  itu  dapat dilihat sebagai terapi bagi klien jika digunakan dengan bijaksana, dengan efektif kemampuan interpersonal. Penggunaan sentuhan terapeutik dapat mengurangi rasa lelah dan tertekan bagi klien,oleh karena itu seorang perawat harus berlatih menggunakan intuisinya agar dapat mempraktekkan metode sentuhan terapeutik kepada klien.

I: Intuisi

 Intuisi merupakan komponen  terakhir dalam   komunikasi non-verbal. Kebutuhan untuk perawat untuk mengasah dan  mempercayai intuisi adalah komponen vital. Intuisi yang membedakan   model SURETY dari SOLER. Gagasan perawat  menggunakan intuisi  dalam praktik keperawatan sangat tepat dan  kuat menurut Benner (1984) . Tidak ada standart  yang universal dan mengharuskan seorang perawat menggunakan intuisinya di setiap situasi, tetapi secara  prakteknya kepada klien  untuk menumbuhkan suatu  keyakinan pada diri perawat untuk menolong klien,maka kepekaan terhadap  intuisi seorang perawat dibangun dan dipercaya. Intuisi dalam melakukan praktik keperawatan sudah diteliti memberikan dampak luas dan dapat diterima sebagai alat penting  dalam membangun komunikasi interpersonal baik verbal maupun non  verbal.(Smith,2009:Traynor et al,2010 ). Hasil akhir dari proses SURETY ini adalah menciptakan ruang dalam membangun hubungan terapeutik perawat-klien. Jika ,metode ini tidak tidak dilakukan maka hal tersebut membantu perawat agar lebih sadar atas apa yang mereka lakukan atau bagaimana mereka menciptakan ruang/suasana agar bias membangun suatu hubungan yang berhasil antara perawt dan pasien.

Penulis telah lama diperkenalkan dengan strategi SOLER atau SURETY  oleh seorang Pecandu Recovery asal Amerika Serikat bernama David Gordon ( 1999 ), saat itu materi Strategi SOLER atau  SURETY diperkenalkan dengan istilah komukasi non verbal “Eye Contact”. Dalam perjalanan bekerja sebagai praktisi klinik di rumah sakit,penulis telah mempraktikan model ini sejak tahun 2001. Awal menerapkan metode tersebut oleh penulis, dilakukan pada pecandu Napza di Pusat Pemulihan Ketergantungan Napza RS.Dr.H.Marzoeiki Mahdi Bogor. Tujuannya adalah untuk membangun hubungan saling percaya dengan klien Napza dan menolng pecandu agar menemukan koping mekanisme baru dalam pencegahan kekambuhan ( Relapse Prevention) penggunaan Napza. Metode ini pun efektif diterapkan untuk melatih kemampuan satf-staf perawat untuk  terampil dalam membangun hubungan terapeutik dengan pasien. Maupun membangun hubungan interpersonal dengan staf lain.

Metode tersebut pernah pula dipraktekkan dalam kegiatan Pelatihan Penanggulangan Napza bagi perwakilan Tenaga Kesehatan dari RS Jiwa Lawang Tahun 2001,hasilnya melalui metode latihan itu peserta mampu mengungkapkan bahwa dirinya merasa tidak sendiri bekerja di rumah sakit,ada budaya kerja tim yang bias dikembangkan, ada kepercayaan yang terbangun antar sesama staf dan  munculnya sikap keberanian untuk dapat mengutarakan apa yang dirasakan berupa masalah kehidupan sehari-hari dirumah maupun di tempat pekerjaan, pengakuan kekurangan diri, kemampuan menginventarisasi moral, pernyataan  kelebihan dan kekuatan diri serta dan harapan seseorang untuk dapat merubah dirinya menjadi lebih baik dan menemukan koping baru dalam mengatasi permasalahan hidup yang selama ini membebani dirinya.

  Penulis sudah 17 tahun mempraktekkan metode  komunikasi non  verbal berupa “Eye Contact” ini untuk melatih pasien-pasien ketergantungan Napza di RS.Dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor yang sedang menjalani proses pemulihan, hasil dari proses latihan tersebut ditemukan data-data yang disampaikan melalui pernyataan verbal dan tulisan berupa kondisi-kondisi seperti adanya rasa kehilangan, kecemasan, kekawatiran, bosan, penyesalan, marah, kesendirian, ketidakberdayaan dan rasa berduka  yang dialami oleh pasien-pasien ketergantungan Napza yang sedang dirawat. Ternyata Selain kepada pecandu Napza,metode ini juga pernah dipraktekkan kepada lebih dari 1000 orang  tenaga kesehatan dalam kesempatan kegiatan capacity building yang diadakan oleh rumah sakit maupun institusi dibawah kementrian kesehatan sekitar tahun 2005 – 2010 juga didapat data hampir sama dengan kondisi pecandu Napza.Terakhir Bulan Juli 2018 metode ini telah dipraktekkan kepada hampir 100 pecandu di ruang pemulihan  dan hasilnya efektif untuk terus dikembangkan dalam menolong pecandu dalam program pemulihan.

   Metode “Eye Contact” yang dimaksud adalah serangkaian aktifitas latihan yang dapat dipraktekkan kepada klien dengan mengikuti  beberapa langkah-langkah, sebagai berikut :

  1. Berjalan Berkeliling Ruangan,berarti melatih membangun sebuah ruang dalam diri agar tercipta suatu kondisi nyaman,focus dan belajar melakukan penilaian diri sendiri dan orang lain.
  2. Berdiri atau duduk dengan berpandangan,berarti mealtih rasa perduli dan belajar menyelami diri sendiri serta hadir sebagai diri sendiri tanpa memakai topeng atau tabir kepalsuan,
  3. Bersentuhan dengan berpegangan tangan serta  saling berpandangan berarti memberikan energy kekuatan untuk saling berbagi, dapat juga berbagi rasa takut,sedih,marah yang dapat diberikan kepada lawan komunikasi kita untuk menghasilkan suatu suasana hati yang lebih nyaman.
  4. Bersentuhan punggung dengan punggung,artinya berbagi beban bersama,baik seorang perawat dengan pasien,atau seseorang dengan lainnya sebagai lawan komunikasinya.
  5. Duduk dan bersentuhan lutut dengan lutut berarti membangun kedekatan pribadi dengan sesamanya,meninggalkan jarak dan saling berbagi dalam meberikan kekuatan.
  6. Berpandangan dekat ( Close Encounter ),membangun kontak mata sangat dekat tidaklah universal harus mempertimbangkan budaya dan perbedaan gender.metode ini akan bekerja efektif jika dilakukan dengan tulus dan penuh kasih sayang.

Latihan Komunikasi Non Verbal metode “Eye Contact” ternyata tidak jauh berbeda dengan Metode SOLER ataupun SURETY yang diperkenalkan oleh Egan (1975) dan Stickley ( 2009 ) ,dimana tujuan akhir dari proses ini adalah dimilikinya rasa empati,bela rasa,peka peduli dari seorang perawat atau seseorang dalam  membangun interpersonal yang saling memberikan efek positif bagi kedua belah pihakan. Bagi pecandu latihan tersebut adalah untuk membangun ruang  dalam dirinya untuk dapat berdamai dengan dirinya dan menemukan sebuah makna hidup berupa keyakinan akan  ada kekuatan yang lebih besar dari dirinya yang dapat membantu untuk mencapai abstinensi dan waras terhadap penggunaan Napza, sehingga menjadikannya pribadi yang baik. Latihan ini dapat dilakukan minimal 2 jam untuk para pecandu dalam proses pemulihan,namun jika dilatih pada perawat atau terapis lain membutuhkan waktu 7 -12 jam dilanjutkan dengan metode komunikasi verbal untuk mencapai efektifitas.

Ns. Sri Redjeki Julianingsih,S.Kep
RS. dr. H Marzoeki Mahdi

  • Share to :