June 10, 2019
loading

"MARI MENCEGAH BUNUH DIRI, MULAILAH BICARA" #Let'sTalk

Posted by    admin

"MARI MENCEGAH BUNUH DIRI, MULAILAH BICARA"
#Let'sTalk

Did you really want to die? No one commits suicide because they want to die. Then why do they do it? Because they want to stop the pain.
- Tiffanie DeBartolo -

"Tidak ada seorangpun yang melakukan bunuh diri karena mereka ingin mati, mereka melakukannya karena ingin mengakhiri kepedihan hidup ini."

"Dok, buat apa saya hidup?"
"Saya tidak berguna"
"Mati mungkin pilihan yang lebih baik"
"Ada suara yang menyuruh saya untuk bunuh diri"
...
Seperti itulah ungkapan beberapa pasien yang akhirnya memutuskan untuk mencari pertolongan dari keinginannya untuk mengakhiri hidup.
Bisakah mereka ditolong?
Yup... bunuh diri bisa dicegah!

Pencegahan bunuh diri masih merupakan masalah universal yang memerlukan kolaborasi dari kita semua. Setiap fenomena bunuh diri selalu meninggalkan perenungan bagi kita semua, perasaan kaget, sedih, kecewa, marah, takut, cemas, memunculkan pertanyaan mengapa hal itu bisa terjadi dan juga semangat untuk melakukan pencegahan agar hal itu tidak kembali terjadi.

Dampak yg disebabkan oleh fenomena bunuh diri ini juga bukanlah hal yg ringan, kehilangan orang yang dikasihi/dikagumi, perasaan traumatik akibat peristiwa tersebut bagi keluarga dan mereka yang menyaksikan kejadian bunuh diri ini dan juga. Untuk setiap 1 kasus bunuh diri terdapat 135 orang yang terkena dampaknya.

Menurut World Health Organization (WHO), lembaga kesehatan dunia, angka kejadian bunuh diri setiap tahun ada 800.000 orang, jadi dalam 40 detik ada 1 orang yg melakukan bunuh diri. Angka terbanyak kejadian bunuh diri berada pada rentang usia 15-29 tahun. 1,4% kematian di seluruh dunia disebabkan oleh bunuh diri.

Tanda dan Gejala

Seorang yang melakukan bunuh diri ataupun masih mencoba bunuh diri sebenarnya tidak sungguh-sungguh ingin mengakhiri hidupnya. Mereka sebenarnya ingin penderitaan/ konflik yang dialaminya cepat berakhir. Hanya sayangnya, bunuh diri yang menjadi pilihan karena seolah tidak ada bantuan lain yang bisa diharapkan.

Ada beberapa tanda dan gejala bunuh diri yang perlu diketahui agar bisa melakukan pencegahan, antara lain:

• Berbicara tentang keinginan untuk mati atau ingin bunuh diri

• Berbicara tentang perasaan kosong, hampa dan tidak punya alasan untuk hidup

• Membuat rencana untuk bunuh diri seperti melihat website mengenai cara bunuh diri, membeli senjata/alat untuk melakukannya, membeli obat-obatan dalam jumlah banyak

• Berbicara tentang perasaan bersalah dan malu yang sangat berat

• Berbicara tentang perasaan terjebak, tidak memiliki jalan keluar

• Merasa ‘sakit’ yang berkepanjangan dan tidak ada perbaikan, fisik/psikis

• Merasa menjadi beban yang berat bagi orang lain

• Menggunakan minuman keras atau Narkoba dan semakin sering

• Berprilaku cemas dan agitasi

• Menarik diri dari keluarga dan teman teman

• Perubahan pd pola tidur dan pola makan

• Menunjukkan perilaku marah atau keinginan balas dendam

• Melakukan perilaku berisiko seperti menyupir mobil kencang dan ugal ugalan

• Berbicara dan berpikir tentang kematian semakin sering

• Perubahan mood yang ekstrim, dari sangat sedih menjadi sangat tenang dan sangat gembira

• Melepaskan posisi yang penting dalam pekerjaan, berhenti kuliah/ bekerja

• Mengucapkan selamat tinggal pada teman teman dan keluarga

• Membuat surat wasiat

• Menuliskan di media sosial mengenai bunuh diri dan kematian

Apabila ditemukan tanda dan gejala seperti di atas sebaiknya segera menghubungi profesional kesehatan jiwa seperti Psikiater, psikolog, perawat jiwa, dokter umum terlatih, pekerja sosial, dll agar segera mendapatkan petolongan. RS.dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor memiliki Hot Line Service Kedaruratan Psikiatri, Layanan ‘Crisis Centre’ di nomor (0251) 8310611.

Faktor Risiko

Setiap orang memiliki risiko untuk melakukan bunuh diri, jenis kelamin, suku budaya, latar belakang pendidikan dan pekerjaan. Perilaku bunuh diri disebabkan oleh berbagai faktor yang kompleks dan tidak ada penyebab tunggal. Ada beberapa faktor risiko yang membuat perilaku bunuh diri lebih mudah terjadi, yaitu :

• Depresi, gangguan jiwa lain (skizofrenia, bipolar, ketergantungan zat)
• Kondisi penyakit tertentu
• Nyeri kronis
• Riwayat perilaku bunuh diri sebelumnya
• Riwayat anggota keluarga dengan bunuh diri, gangguan jiwa dan penyalahgunaan zat
• Kekerasan dalam keluarga termasuk verbal, fisik dan seksual
• Memiliki senjata yang berbahaya di rumah
• Baru keluar dari penjara
• Terekspos/terpapar dengan perilaku bunuh diri yang dilakukan oleh orang lain seperti anggota keluarga, teman, bintang film/selebriti yang diidolakan

Banyak orang yang mengalami faktor risiko tersebut tetapi tidak melakukan bunuh diri, perlu diperhatikan bahwa perilaku bunuh diri adalah tanda adanya suatu stres yang berat yang dialami oleh orang tersebut. Setiap pikiran dan perilaku bunuh diri harus dianggap sebagai suatu hal yang SERIUS dan segeralah mencari pertolongan.

Penanganan

Apabila terdapat tanda, gejala dan faktor risiko mengenai perilaku bunuh diri maka perlu segera dilakukan penanganan. Hal – hal yang bisa dilakukan antara lain adalah :

1. Lakukan komunikasi dan pendampingan yang intensif untuk memastikan apa yang dikhawatirkan tidak benar

2. Katakan bahwa dia tidak sendirian, ada banyak yang mau dan bersedia membantu

3. Memberikan respon krisis dengan segera sesuai dengan tingkatan level risiko bunuh diri

a. Rendah : ada pikiran bunuh diri, tidak ada rencana, tidak mau melakukannya
b. Sedang : beberapa kali muncul pikiran bunuh diri, sedikit rencana, tidak mau melakukannya
c. Tinggi : sering muncul pikiran bunuh diri, rencana yang jelas, tidak mau melakukannya
d. Berat : selalu muncul pikiran bunuh diri, rencana yang jelas dan terus menerus berniat melakukannya

4. Tawarkan bantuan dan bawa konsultasi ke profesional kesehatan jiwa yang akan memeriksa dan memberikan penatalaksanaan yang sesuai.

5. Berusaha untuk proaktif untuk menawarkan bantuan ketika muncul ide-ide bunuh diri lagi dengan meninggalkan nomor telepon

6. Pindahkan benda-benda yang berbahaya yang bisa menjadi alat untuk melakukan bunuh diri.

Terapi

Saat dibawa ke profesional kesehatan jiwa maka orang yang melakukan perilaku bunuh diri akan mendapatkan terapi yang sesuai dengan kondisi kejiwaan yang dialaminya.

1. Pengobatan/medikasi : Clozapin adalah obat pilihan untuk mengurangi risiko bunuh diri, obat obatan yang dapat diberikan lainnya adalah : anti psikotik, anti depresan, anti cemas/ansietas dan mood stabilizer

2. Psikoterapi : terapi bicara untuk menguatkan kondisi mental dan merubah persepsi orang yang melakukan bunuh diri, Terapi Pikiran dan Perilaku (CBT=cognitive behaviour therapy) akan sangat membantu.

Setiap dari kita, siapapun kita, apapun profesi dan jabatan kita punya peranan penting untuk memberikan suatu PERUBAHAN. Mari bersama mencegah bunuh diri.

" Bunuh diri tidak mengakhiri hidup menjadi lebih buruk, TAPI bunuh diri menyudahi kemungkinan hidup untuk lebih baik. "

"Buluh yang terkulai tak kan dipatahkanNya
Sumbu yang telah pudar tak kan dipadamkanNya"

?LaKe?

dr.Lahargo Kembaren, SpKJ
(Psikiater)
RS.dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor

  • Share to :