June 26, 2020
loading

PENCEGAHAN BAHAYA NARKOBA DIMULAI DARI KELUARGA

Posted by    admin

PENCEGAHAN BAHAYA NARKOBA DIMULAI DARI KELUARGA

Sore itu seorang anak remaja datang bersama orang tuanya dengan keluhan adanya perubahan perilaku yang sudah sangat mengganggu. Ternyata anak remaja ini baru saja menggunakan narkoba jenis shabu dan sekarang ketakutan paranoid seperti ada yg mengejar ngejar dirinya, emosional, sulit tidur dan otak terasa tumpul. Sesekali ada halusinasi, mendengar suara suara bisikan yang tidak ada sumbernya. Dari pemeriksaan urin didapatkan positif penggunaan narkoba.

Ya! Adiksi dan penyalahgunaan Narkoba adalah PENYAKIT OTAK yang dapat menyebabkan perubahan mental dan perilaku.

Narkoba merupakan singkatan dari Narkotika dan Obat/Bahan berbahaya. Dahulu kala masyarakat juga mengenal istilah madat sebagai sebutan untuk candu atau opium. Selain Narkoba, istilah lain yang diperkenalkan khususnya oleh Departemen Kesehatan RI adalah NAPZA yaitu singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Zat adiktif lainnya. Semua istilah ini sebenarnya mengacu pada sekelompok zat yang umumnya mempunyai risiko yang oleh masyarakat disebut berbahaya yaitu kecanduan (adiksi).

Narkoba atau NAPZA merupakan bahan/zat yang bila masuk ke dalam tubuh akan mempengaruhi tubuh terutama susunan syaraf pusat/otak sehingga, bilamana disalahgunakan, menyebabkan gangguan fisik, psikis/jiwa dan fungsi sosial. Karena itu, Pemerintah memberlakukan Undang-undang untuk penyalahgunaan narkoba yaitu UU No.5 tahun 1997 tentang Psikotropika dan UU No.22 tahun 1997 tentang Narkotika.

Jenis narkotika yang saat ini banyak beredar antara lain adalah : morfin, heroin (putauw), petidin, termasuk ganja atau kanabis, mariyuana, hashis dan kokain. Sedangkan jenis Psikotropika yang sering disalahgunakan adalah amfetamin, ekstasi, shabu, obat penenang seperti klonazepam, alprazolam, nitrazepam, mogadon, rohypnol, dumolid, lexotan, pil koplo, BK, termasuk LSD, Mushroom.

Di kalangan remaja dan pelajar juga saat ini sedang banyak beredar penyalahgunaan dextrometorphan (DMP), Tramadol, dan Triheksifenidil (Trihex). BNN (Badan Narkotika Nasional) mencatat ada sekitar 4,2 juta orang penduduk Indonesia yang mengalami ketergantungan NAPZA dan sebagian besar adalah remaja.

Gangguan fisik dan psikis yang ditimbulkan tergantung dari jenis zat yang digunakan. Semua efek yang ditimbulkan adalah efek negatif dan membahayakan. Banyak penyakit fisik yang bisa ditimbulkan oleh pemakaian Narkoba/NAPZA ini. Paling berbahaya adalah penyakit hepatitis dan HIV/AIDS. Gangguan jiwa seperti depresi, cemas/ansietas dan psikotik (gangguan dalam menilai realitas, muncul halusinasi dan delusi) bisa terjadi pada penyalahgunaan zat ini.

PERAN KELUARGA

Keluarga berperan penting dalam pencegahan terjadinya ketergantungan zat ini. Beberapa hal yang bisa dilakukan adalah :

- Membangun ikatan emosi yang baik antara orangtua dan anak, perbanyak aktivitas dan komunikasi dengan anak sehingga anak akan merasakan bahwa di keluarga dia mendapatkan ketenangan.

- Mulai dengan segera untuk berbicara dengan anak tentang bahaya Narkoba/NAPZA, jangan sampai anak mendapatkan informasi yang salah dari luar

- Tentukan batasan yang tegas bagi si anak dalam perilaku dan pergaulannya sehari-hari, isi waktu anak dengan aktivitas positif seperti musik dan olahraga

- Segera lakukan penanganan apabila anak menunjukkan gejala gejala penggunaan Narkoba seperti prestasi dan nilai yang menurun, perubahan sikap dan perilaku, sering berbohong, dll

- Memperlihatkan pada si anak secara langsung apa akibat dari Narkoba akan membantu anak membangun benteng mental yang lebih baik. Hal ini bisa dilakukan dengan melakukan kunjungan ke tempat rehabilitasi/rumah sakit yang merawat pasien dengan akibat dari penyalahgunaan narkoba.

Narkoba bisa mengenai siapa saja tanpa memandang latar belakangnya. Melakukan pencegahan adalah tindakan yang lebih baik mengingat sulitnya melakukan rehabilitasi pada pasien ketergantungan Narkoba.

LIFE SKILLS

WHO, lembaga kesehatan dunia menyatakan, agar seorang anak mampu bertahan dan beradaptasi dalam kehidupannya, dia perlu memiliki suatu ‘Life skill’ atau keterampilan hidup. Life skill atau keterampilan hidup adalah sebagai suatu kemampuan yang sebaiknya dimiliki oleh remaja untuk menyusun (mengorganisir) pola pikir sehingga menjadi serangkaian perilaku yang terintegrasi dan dapat diterima oleh lingkungan budaya setempat. Dengan demikian akan meningkatkan hubungan antar manusia.

Anak remaja yang tidak/ kurang memiliki keterampilan hidup dapat menyebabkan : buruknya hubungan sesama teman sebaya, isolasi sosial, kesulitan dalam menyelesaikan masalah jatuh ke dalam pergaulan bebas dan berbahaya. ‘Life skill’ atau keterampilan hidup ini terdiri dari kemampuan dalam :

1. Meningkatkan harga diri
2. Mengelola stress
3. Mengenali dan menghadapi emosi
4. Mengatasi tekanan teman sebaya
5. Resolusi konflik

Keluarga memegang peranan penting dalam pembentukan “life skill” ini dengan cara memberikan pola asuh yang tepat. Anak-anak sekarang ini berada dalam situasi yang tidak aman terutama dari ancaman narkoba. Oleh karena itu, sangat penting bagi keluarga untuk membekali, membentengi dan memperlengkapi anak dengan berbagai keterampilan hidup supaya dia mampu bertahan melewati tantangan hidupnya.

Tahun 2020 ini Hari Anti Narkotika Nasional mengambil tema : Hidup 100%, sadar, sehat, produktif, dan bahagia.

“Though no one can go back and make a brand new start, anyone can start from now and make a brand new ending.”

?LaKe?

dr.Lahargo Kembaren, SpKJ

Psikiater, Kepala Instalasi Rehabilitasi Psikososial RSMM Bogor

  • Share to :